Pentingnya
protein bagi kehidupan manusia sangat menunjang bagi para ilmuwan untuk
menghasilkan suatu bahan makanan yang mengandung protein. Salah satunya adalah moromi kedelai edamame dan moromi kedelai local. Salah satu aplikasi industri yang menyangkut protein yakni: *Perbandingan Kualitas Moromi Kedelai
Edamame dan Moromi Kedelai Lokal Menggunakan Kultur Tunggal Lactobacillus
delbrueckii FNCC-045;*Laju Kerusakan Protein Serum Tikus Sprague dawley Akibat
Radiasi Ultraviolet.
1.3.1 Perbandingan Kualitas Moromi Kedelai
Edamame dan Moromi Kedelai Lokal
Menggunakan Kultur Tunggal Lactobacillus delbrueckii FNCC-045
Telah
dilakukan penelitian perbandingan kualitas moromi kedelai edamame dan moromi
kedelai lokal menggunakan kultur tunggal L.delbrueckii
FNCC-045. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kualitas moromi kedelai
edamame dan kedelai lokal menggunakan kultur tunggal bakteri L.delbrueckii FNCC-045 yang didasarkan
pada analisis protein terlarut , total padatan terlarut, totl asam dan pH.
Penelitian ini
menggunakan metode Rancangan Acak Lengkap,Hasil peneletian ini didapatkan bahwa
nilai protein terlarut, total padatan terlarut, total asam dan pH pada minggu
ke-2 sampai minggu ke-4 tidak berbeda nyata. Nilai untuk protein terlarut
moromi kedelai edamame sebesar 0.42% dan moromi kedelai lokal sebesar 0.35%,
total padatan terlarut untuk moromi kedelai edamame 19.20% dan maromi kedelai
lokal sebesar 1.635% dan pH untuk maromi kedelai edamame sebesar 6,5 dan maromi
kedelai lokal sebesar 6.21. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa kualitas
moromi dengan menggunakan kedelai edamame sama baiknya dengan menggunakan kedelai lokal.
Proses
fermentasi dalam pembuatan kecap dari bahan kedelai melalui 2 tahap yaitu fermentasi
padat dengan menggunakan jamur disebut koji dan fermentasi cair yang
menggunakan bakteri asam yang disebut moromi .Pada umumnya pembuatan moromi
secara spontan. Keberhasilan fermentasi moromi sangat menentukan kualitas kecap
yang dihasilkan. Prinsip pembuatan kecap secara fermentasi adalah proses
hidrolisis protein dan senyawa-senyawa lainnya dari kedelai secara enzimatis
oleh aktifitas mikroba.
Moromi
merupakan fermentasi lanjutan satelah fermentasi padat. Hal-hal yang berkaitan erat dengan moromi adalah
larutan garam dapur(NaCl) dan bakteri asam laktat. Faktor-faktor yang
mempengaruhi tahap fermentasi moromi yaitu suhu, nutrisi, pH dan oksigen.
Analisis
protin terlarut (metode formal, sudarmadji dkk) dengan mengambil 10 ml sampel
dimasukkan kedalam erlemeyer kemudiaan ditambahkan 20 mL aquadest, 0,4 mL
K-oksalat ditambah 1 mL pp 1% dan didiamkan selama 2 menit, kemudian dititrasi
dengan 0.1 N NaOH sampai tercapai warna merah jambu. Setelah warna merah
dicapai, ditambahkan 2 mL larutan formaldehid 37% dan dititrasi kembali dengan
larutan NaOH sampai tercapai warna merah jambu lagi kemudian nilai titrasi
kedua dicatat. Selanjutnya titrasi blanko yang terdiri dari 20 mL aquadest
ditambah 0,4 mL K-Oksalat jenuh ditambah 1 mL indikator pp 1% ditambah 2 mL laritan
formaldehid 37% dan yang terakhir dititrasi dengan larutan NaOH. Titer
terkoreksi yaitu titrasi kedua dikurangi titrasi blanko merupakan titrasi
formal. Perhitungan % N :
% N = titrasi
formal x N NaOH x 14,008 : gr contohx 10
% protein = %
N x faktor konversi
Faktor
konversi kedelai = 6,25
1.3.2
Laju Kerusakan Protein Serum Tikus Sprague dawley Akibat Radiasi Ultraviolet.
Prosedur penelitian ada 2
tahap, yaitu tahap persiapan dan pelaksanaan. Tahap persiapan meliputi adaptasi
32 ekor tikus sprague dawley jantan selama 2 minggu. Tahap pelaksanaan salama
60 hari, dengan ketentuan sebelum perlakuan hewan coba ditimbang beratnya.
Setelah siap, hewan pada tahap perlakuan diletakkan dalam kotak yang berukuran
100 x 50 x 58 cm untuk dilakukan pemajanan ultraviolet. Setalah 60 hari diambil darah untuk diukur kadar
karbonil dan aktivitas katalase. Pemeriksaan kadar karbonil dilakukan dengan
metode DMPH, yang adsorbansinya superektannya dibaca pada 350nm. Aktivitas
katalase dinyatakan sebagai konstanta kecepatan reksi enzimatik katalase H2O2
pada adsorbansi 240nm. Dari data yang diperoleh, kemudian dihitung koefisien
regresi liniernya.
Hasil pengukuran aktivitas
katalase dan kadar karbonil dapat diasumsikan dengan laju pajanan UV dengan
kadar karbonil mempunyai r =0.866. hal ini berarti bahwa lama pajanan UV
mengakibatkan meningkatnya kerusakan protein.lama pajanan UV dengan aktivitas
katalase memiliki r = 0,530. hal ini berarti bahwa lama pajanan UV menyebabkan
penurunan aktivitas katalase. Dapat disimpulkan bahwa lama pajanan UV
berpengaruh pada penurunan aktivitas katalase dan kadar karbonil. Koefisien
koeralasi antara katalase dan kadar karbonil adalah -0.767. hal ini berrti
bahwa setiap penurunan kadar katalase diikuti oleh peningkatan kerusakan
protein.hal ini diduga akibat oksidasi O2 dengan residu asam amino penyusun
katalase misalnya methionin, histidin, lisis, dan sistein. Akibatnya terjadi
proses perubahan struktur asam amino penyusun katalase. Sehingga menjadi kurang
aktif atau bahkan tidak aktif.
Kesimpulan
yang dapat ditarik dari penelitian ini adalah: lama pajanan sinar UV
menyebabkan penurunan aktivitas katalase dan peningkatan kerusakan protein yang
ditandai oleh peningkatan kadar karbonil.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar